Andi adalah manajer sebuah showroom mobil di kawasan Cibubur. Usianya menjelang empat puluh, tubuhnya masih tegap, cara bicaranya tenang, dan wibawanya membuat orang mudah percaya. Ia tidak tampan seperti lelaki muda yang sering mendekati Laras, tetapi ada sesuatu pada Andi yang membuat Laras merasa aman sekaligus penasaran.
Mereka pertama bertemu saat Laras menemani seorang temannya melihat mobil. Andi melayani mereka dengan ramah. Namun mata Andi beberapa kali tertuju pada Laras. Bukan tatapan kasar, melainkan tatapan yang membuat Laras merasa diperhatikan dengan cara yang berbeda.
Sejak hari itu, komunikasi mereka berlanjut. Awalnya hanya lewat pesan singkat. Andi bertanya soal mobil, lalu berkembang menjadi percakapan tentang hidup, pekerjaan, dan masa lalu. Laras merasa Andi mendengarkannya. Sesuatu yang lama tidak ia rasakan.
Suatu sore, Andi mengundang Laras ke rumahnya. Katanya hanya untuk ngobrol dan minum kopi. Laras tahu itu bukan sekadar undangan biasa. Namun ia tetap datang.
Rumah Andi rapi dan sepi. Ia mengatakan istrinya sedang pergi ke luar kota. Laras duduk di sofa, awalnya masih menjaga jarak. Tetapi Andi duduk cukup dekat, dan percakapan mereka perlahan berubah menjadi lebih intim. Malam itu, batas yang selama ini Laras jaga akhirnya runtuh.
Sejak itu, hubungan mereka berjalan dalam dua dunia: terang di siang hari, gelap di malam hari.
Laras beberapa kali datang ke showroom menjelang tutup. Ia berpura-pura ingin melihat mobil, padahal ia hanya ingin bertemu Andi. Ketika karyawan lain sudah pulang, ruang kantor Andi menjadi tempat mereka berdua melepas rindu. Mereka berciuman lama, berbagi bisikan, dan sering kali lupa waktu. Intinya tidak pernah diceritakan secara terbuka, tetapi dari sorot mata Laras, ia seperti sedang kecanduan pada lelaki itu.
Andi memberinya perhatian yang berbeda. Ia tidak hanya memuji kecantikan Laras, tetapi juga bertanya tentang Raka, tentang impian Laras, dan tentang luka yang belum selesai. Laras merasa Andi memahami dirinya. Padahal, di sisi lain, Laras tahu Andi sudah memiliki istri.
Suatu malam, Andi mengantar Laras pulang. Mereka berdua berada di dalam mobil, terjebak lampu merah panjang di Cibubur. Tiba-tiba telepon Andi berdering. Nama istrinya tertera di layar.
Andi menegakkan tubuh. Laras refleks menunduk. Ia tahu posisinya sedang berbahaya. Mobil mereka berada di pinggir jalan, dan dari arah kaca samping, seseorang bisa melihat ke dalam.
“Iya, Sayang? Aku masih di jalan,” kata Andi berusaha tenang.
Laras menahan napas. Ia merunduk rendah, berusaha tidak terlihat. Jantungnya berdebar keras. Andi terus berbicara seolah tidak terjadi apa-apa, tetapi tangannya di setir terlihat menegang.
Dari luar, tidak jelas apa yang dilihat istri Andi. Namun perempuan itu ternyata sedang berdiri di dekat mobil, mungkin baru turun dari kendaraan lain. Ia mengetuk kaca. Andi terpaksa membuka jendela sedikit.
“Kamu sendiri?” tanya istrinya curiga.
“Sendiri. Kenapa?”
Istri Andi menatap ke dalam mobil. Laras menahan seluruh tubuhnya agar tidak terlihat. Napasnya hampir habis. Andi tetap tersenyum, tetapi keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.
Beberapa detik terasa seperti satu jam. Akhirnya istri Andi mengangguk, lalu pergi. Andi menutup jendela, menghela napas panjang, dan menoleh.
Laras muncul dari tempat persembunyiannya. Wajahnya pucat, tetapi bibirnya tersenyum.
“Kamu gila,” kata Andi pelan.
“Kamu yang mengajakku ke sini,” balas Laras.
Andi terdiam. Ia menatap Laras lama, lalu menggeleng. “Kalau sampai dia tahu, hidupku hancur.”
Laras tidak menjawab. Ia hanya menatap jalanan malam yang basah. Di dalam hatinya, ada dua suara yang bertarung. Satu mengingatkannya pada Raka. Satu lagi mengingatkannya pada rasa berdebar yang baru saja ia rasakan.
Sesampainya di rumah, lampu teras masih menyala. Raka sudah tertidur di sofa dengan buku pelajaran masih terbuka di pangkuannya. Laras berdiri di ambang pintu. Perlahan ia duduk di samping anaknya, lalu menyelimuti tubuh kecil itu.
“Maaf, Nak,” bisiknya.
Namun malam itu, Laras tahu ia sedang kembali masuk ke jalan yang pernah hampir ia tinggalkan. Dan kali ini, rahasianya jauh lebih berbahaya.
Karena Andi bukan hanya lelaki yang memberinya perhatian. Andi adalah lelaki yang sudah punya kehidupan lain. Sementara Laras, sekali lagi, sedang mempertaruhkan nama baiknya, ketenangan Raka, dan seluruh usaha yang pernah ia bangun untuk berubah.


0 Komentar
Silahkan berkomentar sesuai dengan judul artikel,
Kritik dan saran sangat membantu saya dalam memeperbaiki blog ini.
Terima kasih atas kunjungan anda...