Recents in Beach

Dongeng Batu dan Kupu-kupu


Dia kupu-kupu yang sangat elok, corak dan warnanya secerah matahari pagi dengan sapuan bianglala di setiap bulu-bulu halusnya yang meski rapuh, tetapi selembut embun. Dia melayang-layang begitu riang, meliuk mengikuti arus udara, hinggap dari satu daun ke daun yang lain, dari ranting ke ranting, dari ujung rumput satu ke ujung lainnya. Sejenak, dia hinggap di satu ujung ranting, dan ketika ranting itu melengkung, bergoyang oleh udara, kembali dia mengepakkan sayap lembutnya, tertawa penuh sukacita.

Kadang dia terbang meninggi, merendah, menyapa daun-daun, pohon-pohon, rumput-rumput, bunga-bunga. Suatu hari dia terbang begitu tinggi, dia ingin menguji seberapa tinggi dia bisa terbang. Dia terus terbang menembus awan, hingga ketika dia merasa lelah dan kembali hendak mendarat dan hinggap, dia tidak menemukan satu pun tempat hinggap, karena tanah di sekelilingnya adalah hamparan tandus padang pasir. Rupa-rupanya tanpa sadar dia menjauh dari tempat dirinya biasa hidup.
Lalu di kejauhan dia melihat seonggok batu hitam yang sendirian di tengah hamparan padang itu. Dia terbang menghampiri, dengan sayapnya yang kian letih.

“Batu, bolehkah aku hinggap di permukaanmu, aku lelah terbang ke sana kemari. Tak ada apa pun di sekitar sini yang bisa kuhinggapi.”
“Silakan, kupu-kupu yang cantik. Ah, sudah sekian lama sejak kupu-kupu terakhir hinggap di sini. Tidak ada kehidupan di sekitar sini selain pasir dan badainya yang panas. Silakan, hinggaplah sesukaku.”
“Tapi, apakah kau panas, Batu. Aku khawatir kaki-kaki mungilku akan terbakar di permukaanmu.”
“Di permukaanku memang panas, Kupu-kupu. Tapi ada ceruk di dadaku yang selalu kujaga dari sengatan matahari di atas sana. Masuklah ke ceruk itu, kau bisa beristirahat di sana. Akan kujaga kau dari terik matahari yang membakar.”
“Terima kasih, Batu. Sayap-sayap rapuhku hampir terbakar. Aku tidak yakin bisa bertahan lebih lama lagi.”
Maka kupu-kupu itu pun mengelilingi permukaan batu itu, mencari ceruk di dadanya, dan memasukinya.
“Ah, nyaman sekali di sini, Batu. Dindingnya cukup hangat.”
“Apa kau haus, Kupu-kupu? Masuklah agak ke dalam, ada mata air kecil di sana, airnya cukup untuk menghilangkan dahagamu.”
Masuklah kupu-kupu itu dengan langkah-langkah kecilnya semakin ke dalam ceruk.
“Lebih dari cukup, Batu. Bahkan aku yakin air ini pun sangat cukup seandainya aku tinggal di ceruk ini bertahun-tahun, bahkan selamanya.”
“Ya, di tengah padang tandus ini, hanya di ceruk itulah ada mata air. Itulah air yang telah kukumpulkan dari kedalaman tanah di sepenjuru padang ini.”

Maka tinggallah kupu-kupu itu di ceruk batu, pada awalnya kupu-kupu hanya berniat singgah, tetapi kenyamanan di tempat itu membuatnya betah. Dia pun berlama-lama di sana. Saling berbagi cerita, bertukar kisah. Dia menceritakan kepada Batu negeri-negeri indah yang pernah disinggahinya, pohon-pohon elok, bunga-bunga berwarna-warni yang pernah dijumpainya.

Batu itu senang sekali mendengarnya. Sendirian di tengah padang tandus dan tidak punya daya untuk pergi ke mana-mana, tentu saja Batu kini menjadi tahu bahwa di luar sana, ada tempat-tempat indah selain hamparan padang yang selama ini mengelilinginya.

“Aku ingin ke sana, menyaksikan semua keindahan itu. seandainya bisa,” harap Batu.
“Barangkali, aku bisa membantumu. Kini aku memang kupu-kupu yang mungil, tetapi aku bisa menjadi kupu-kupu raksasa, dan di suatu tempat, aku punya banyak kawan kupu-kupu raksasa yang suatu saat bisa aku mintai pertolongan, untuk membawamu dari tempat ini, bersamaku.”
“Aku akan sangat bergembira dan berterima kasih. Tapi, apakah itu mungkin?”
“Mungkin saja. Kita akan mencobanya nanti.”
“Kau betul, tinggallah bersamaku di sini dulu, sampai kau tumbuh menjadi kupu-kupu raksasa dan mampu menyeberangi padang gersang ini. Mata air dalam diriku tidak akan pernah habis untukmu. Aku akan menumbuhkan rumput-rumput di sekitarku dan semak-semak kecil di sekelilingku untuk meneduhkanmu.”
Rumput-rumput kecil mulai tumbuh. Semak-semak berdaun kecil bermunculan. Semakin hari di sekeliling batu itu menjadi oasis kecil yang teduh. Kupu-kupu itu senang bukan main. Setiap hari dia terbang ke sana kemari, menghinggapi daun-daun, ujung-ujung rumput, tetapi pada malam hari dia selalu kembali pada batu itu, rebah di permukaannya yang hangat. Ya, dia sudah semakin tumbuh, sudah tidak lagi muat di dalam ceruk. Mata air kecil yang tadinya berada di dalam ceruk, kini oleh batu dialirkan keluar, menjadi aliran kecil yang selain demi menyediakan air minum bagi si kupu-kupu, juga untuk oase kecil di sekelilingnya. Permukaan batu kini tidak lagi panas, karena sudah dinaungi oleh daun yang rimbun dari salah satu pohon.
“Kau sudah semakin besar, Kupu-kupu,” bisik Batu pada kupu-kupu yang merebahkan sayapnya di permukaannya, kini sayapnya merentang hampir menutupi permukaan kepalanya. Kupu-kupu tersenyum. Dia membelai-belaikan bulu-bulu halus di sayapnya pada permukaan batu. “Terima kasih sudah menemaniku selama ini. Aku bahagia. Kupikir, aku sudah tidak lagi menginginkan pergi dari sini. Keberadaanmu bersamaku, itu sudah lebih dari cukup.”

“Aku pun bahagia. Aku tidak yakin ingin meninggalkan tempat ini, meninggalkanmu. Hanya di sinilah tempatku pernah benar-benar merasa hidup. Aku telah hinggap di banyak tempat, banyak pohon, banyak bunga, tapi tak pernah seperti di sini. Rasanya, aku tidak ingin pergi dari tempat ini. Aku ingin selamanya menemanimu,” balas kupu-kupu.

Tanpa mereka sadari, oase kecil di tengah padang itu menarik perhatian binatang lain, salah satunya adalah seekor kadal gurun berbisa. Warnanya memang seperti pasir, sehingga dengan mudah dia mengintai dan menyelinap mendekati oase itu. Setelah cukup dekat, dia melihat ada kupu-kupu cantik yang menarik perhatiannya. Hidup sekian lama di gurun, dia tidak pernah memangsa kupu-kupu, hanya serangga-serangga kecil yang sesekali tersesat.

Kadal gurun itu semakin mendekat, kemudian menyelinap di salah satu semak. Kupu-kupu itu sendirian, pikirnya, barangkali dia tersesat hingga sampai di oase kecil ini.
Kupu-kupu itu semakin membesar, sayapnya merentang, corak-corak pada sayapnya terlihat sangat menawan. Batu yang telah menemani dan menjadi saksi setiap pertumbuhan kupu-kupu itu merasa bangga. Tidak sia-sia dia mengalirkan air dari kedalaman tanah, tidak sia-sia dia menciptakan oase kecil demi tempat kupu-kupu itu tumbuh. Dia pun dengan senang hati akan mengalirkan semakin banyak air dari kedalaman dirinya demi menumbuhkan semakin banyak pepohonan dan semak agar oase itu semakin menyenangkan bagi kupu-kupu.

Namun, pada suatu pagi yang sejuk, saat kupu-kupu baru saja bangun dan merentangkan sayap-sayapnya, setelah semalam sebelumnya sayap itu memeluk sang batu dengan khidmat dan erat, seolah itu adalah pelukan terakhir, dari semak-semak kadal gurun itu rupanya sudah tidak sabar, dia melompat menerkam si kupu-kupu dengan mulutnya yang lebar dan berbisa. Kupu-kupu itu terperangkap. Dia tidak berkutik. Bisa di mulut kadal gurun itu semakin menjalar di tubuhnya. Sayap-sayapnya perlahan membiru pucat dan melemas. Sang Batu terkesiap, terguncang, hingga mata air dari dalam dirinya seketika berhenti mengalir. Dia ingin mengangkat tubuhnya sendiri untuk menggencet kadal gurun itu, tetapi tidak bisa.

Kadal gurun itu menyeringai puas, menoleh ke kanan dan ke kiri, tidak peduli dengan keberadaan Batu. Mulutnya penuh dengan tubuh kupu-kupu, sementara sayap-sayap makhluk cantik itu tidak sanggup dia telan. Dengan pongah kadal gurun itu melenggang, meninggalkan batu, meninggalkan oase kecil itu, dengan kupu-kupu yang kini layu di mulutnya, menuju ke liangnya di suatu tempat di tengah gurun. Dia tidak sanggup menelan kupu-kupu itu karena sayapnya terlalu lebar, tetapi dia juga enggan melepaskan kembali kupu-kupu itu.

Kupu-kupu itu semakin lemas dan tak berkutik di mulut sang kadal, sayap-sayapnya tidak mampu lagi dia kepakkan. Kini dia hanya bisa mengikuti ke mana si kadal gurun itu membawanya. Dia pasrah, tinggal menunggu waktu sampai dirinya akan sepenuhnya lebur dan musnah dicerna perut sang kadal gurun berbisa itu.

Dan di oase kecil itu, mata air Batu mendadak mengering. Semak-semak dan rumput-rumput mendadak layu. Lalu pada siang harinya, permukaan Batu menjadi sangat panas, bahkan dia tak lagi melindungi ceruk kecil yang selama ini dijaganya.

Posting Komentar

0 Komentar